I've been stained
for a long time with rhetorical question, "when will I finally
graduate?". And then, the following fantasies about wearing office
clothes, entering the multistory buildings, and having a cup of coffee before
starting the day come up afterwards. But, when my self-consiousness appeared to
say hello, those tiny beautiful dreams dimmed, substituted with another
illusions.
Now, I'd regain
another dreams, wish another hopes to redeem.
On 2nd Oct 2018,
when the head of department has approved the judicial process, I've been
officially named as temporary unemployment until the placement announcement
dropped.
What does graduate
mean?
It means,I'm no longer being a student, I'm no longer
having impromptu assignment, I'm no longer worrying about the final score, I'm no longer being haunted by the ferocity of drop out from my holy school, and I'm no longer meeting several people,
There are too much
'no longer's on my list to be crossed.
Sad to be true, i
will no longer meeting my friends too :(
From another blah,
the alter ego inside of me murmured, "but, this is the part of growing old,
isn't it?"
Thank you for being
nice to me in the last three months
Thank you for
bringing back the old songs i used to love to
Thank you for
sending tremendously delightful words to our chat rooms
Thank you for
letting my feelings played in the giant roller coaster diversion of yours
Thank you for giving
me those affections i couldn't refuse
Thank you for the
games you created just to put me into
Thank you for those
playful smiles which unfortunately made me fall
It's just thank you
for being you and now it's kinda hard to forget you
But it's okay, I'm
beyond okay to loose you
(disclaimer: sajak diatas saya tulis hanya untuk kesenangan pribadi, judul dan konten tidak benar-benar menggambarkan kondisi yang sebenarnya terjadi. terima kasih telah membaca. *insert smile emoji here*)
Banyak orang seakan teramankan oleh pepatah “you know
my name, not my story”. quote dari Jonathan Anthony Burkett seolah
memperkenankan seseorang untuk merasa dirinya unik —tidak seperti kebanyakan
orang— yang sayangnya, hal itu malah tidak membuat pembeli tagline tersebut mempunyai pribadi
berbeda dengan lainnya. mereka hanya terbuai dengan gimmick saya lebih dari
apa yang orang lain tahu tentang saya.
dear folks, tahu tidak, perasaan bahwa kalian mempunyai
pemikiran yang berbeda dari yang lain merupakan sebuah dogma dari narcissism. jika kalian termakan dengan siasat tersebut, kalian
malah hanya akan semakin dimanja oleh keadaan yang biasa-biasa saja atau kalau dalam bahasa inggris situasi ini disebut
sebagai mediocrity.
Seberbeda apapun yang kita rasakan dengan yang lain,
itu bukan karena entitas dalam diri kita yang menjadi outliers. Hal itu terjadi hanya karena kita belum menemukan
konstanta yang satu variabel saja. Variabel disini bukan berarti suatu perkara
masalah yang sama, atau cara berfikir yang sama. Melainkan beban yang sama
ketika formula tersebut sudah dieksekusi dengan mental, cara berpikir, dan
perkara yang dihadapi. Trust
me, there's a lot of people who feel the same except the ones who were chosen by
Allah.
Bermodal dengan pengamatan langsung kepada orang-orang
disekitar, saya berani menyimpulkan bahwa banyak juga mereka yang merasa
terspesialkan dengan adanya tagline tersebut. memungut kalimat tersebut dari
gudang meme, lalu memasangnya sebagai bio di media sosial lainnya. Seolah
mereka hendak mengatakan kepada dunia “hey, you don’t know what i’ve been through. so shut up!”. ha! sebuah pesan singkat yang memberi tahu orang
lain bahwa dirinya lebih
dari yang orang lain tahu ini
sungguh menyedihkan.
Whatever happens, don't feel
different.
Karena justru jika kita terus berteduh dengan payung
ini, tentu kita tidak akan mungkin mampu berjalan lebih jauh lagi dari
sekarang. get what i
mean?
Kenyataan bahwa
didunia ini mempunyai berbagai perspektif memang merumitkan. Bukan hanya
menyebabkan spektrum warna yang berbeda-beda, tetapi terkadang perbedaan warna
tersebut menyebabkan ketidaksinambungan yang mengecohkan. Dimulai dari pola
pikir yang bertentangan dengan milik individu lain, beraneka ragam kekuatan
self-defense setiap pribadi, hingga reaksi yang menimbulkan emosi kognitif pun
berlainan.
Mengaitkan
Darwinisme dengan teori evolusinya yang cenderung dikatakan terlalu sentris,
perbedaan tersebutlah tentu juga dimanfaatkan untuk sebuah ajang pembuktian
siapa yang paling kuat dan lemah yang mana merupakan bentuk dari suatu
interaksi pada sebuah komunitas yang dinamis. Bukan hanya sekadar pembuktian
sepihak, tetapi semenjak egoisme telah mengkristal, konflik ideolegi menjadi
indikator utama dari kericuhan.
Rasionalisme tidak
terlalu sering diimplikasikan dengan heterogenitas pikiran, tetapi memang
menjadi andil yang cukup banyak berperan dalam interaksi sosial. Perbedaan
pendapat dalam sebuah forum merupakan hal yang wajar. Penempatan diri oleh
individu untuk memberikan best opinion pun
sudah seharusnya dilaksanakan dengan hangat. Keterbukaan pikiran merupakan hal
utama dalam sebuah diskusi. dan jika berani berdalih, kita seharusnya mampu menerima hasil yang dikategorikan paling optimal
walaupun sempat memperlihatkan reaksi kontradiksi.